Sabtu, 09 April 2022

Perjalanan Lanjut Kuliah Lagi: Bagian 3 Beasiswa Ministerial Scholarship (MINTS) - Seleksi Administrasi dan Seleksi Tertulis

 Aloha! 

Setelah jeda terlampau panjang karena banyak hal yang harus diselesaikan akan ku lanjutkan lagi ocehan tentang perjalananku lanjut kuliah.

Setelah gagal di tahap Psikotes seleksi beasiswa FETA pada 2020, semangatku lanjut kuliah baru muncul lagi di tahun 2021. Di awal tahun sempat terpikir untuk ikut seleksi beasiswa Fullbright yang ditawarkan oleh pemerintah Amerika Serikat. Namun, karena berbagai macam alasan mulai dari nggak ada ide bikin essay dan tetiba banyak kerjaan (sebenernya karena niat yang kurang mantab aja sih) aku tak jadi mendaftar. Yasudahlah, aku akan daftar di penawaran beasiswa yang selanjutnya saja pikirku saat itu.

Ternyataaa, di akhir bulan Februari 2021, ada penawaran beasiswa Ministerial Scholarship (MINTS) Tahun 2021 dari Pusat Pengembangan SDM (PPSDM) BPPK yang ditujukan untuk pegawai Kementerian Keuangan. Yup, ini adalah bentuk baru dari beasiwa FETA yang aku ikuti di tahun sebelumnya. Di penawaran ini ada 2 hal yang berbeda dibanding tahun sebelumnya, antara lain:

1.  Syarat pendaftar adalah pegawai yang masuk ke dalam kelompok pegawai potensial yaitu 

- talent sesuai dengan ketentuan Manajemen Talenta di Kemenkeu (menempati box 7/8/9 pada tahun berjalan dan/atau satu tahun sebelumnya) 

- pegawai teladan/berprestasi/terbaik (level Kementerian/ unit eselon I)

- pegawai yang aktif dalam penelitian/ publikasi ilmiah (jurnal atau media nasional)

- pegawai dengan prestasi khusus (level regional/nasional/internasional)

- pegawai kreatif/inovatif.

2. Perguruan tinggi tujuan harus masuk dalam peringkat 30 terbaik by subject menurut lembaga pemeringkat di antaranya (namun tidak terbatas pada) QS, THE, dan ARWU.

3. Seleksi akademik melalui tes yang diadakan oleh PPSDM, tidak bisa submit skor TPA Bappenas dan TOEFL/IELTS seperti di seleksi FETA 2020.

Untuk syarat pegawai potensial aku memilih untuk masuk ke kriteria kreatif/inovatif dan prestasi khusus. Nah, untuk kampus 30 besar ini aku agak kerepotan karena aku baru menentukan jurusan saat ada penawaran beasiswa ini. Jika di seleksi FETA 2020 aku berencana mengambil jurusan Administrasi Publik, untuk seleksi MINTS aku berpindah haluan ke Manajemen SDM dengan pertimbangan bahwa jurusan tersebut berkaitan langsung dengan bidang kerjaku saat ini. Nanti saat menyusun essay dan wawancara bisa lebih mudah menyusun argumen.  Karena aku berencana mengambil masa studi 2 tahun, maka aku memilih kampus tujuan di Amerika Serikat. Aku cek satu-satu deh tuh kampus-kampus di US yang menawarkan program studi Manajemen SDM yang masuk dalam peringkat 30 terbaik. Jujur ini agak tricky karena jarang ada lembaga pemeringkat yang secara spesifik mengkategorikan Manajemen SDM, kebanyakan hanya memiliki kategori Manajemen aja. Selain itu, nggak semua kampus yang masuk program Manajemennya masuk ke peringkat 30 besar itu yang memiliki jurusan Manajemen SDM. Hadeeeh.

Seperti yang aku ocehkan sebelumnya, jangan pernah lengah dan menggampangkan seleksi administrasi. Jika persyaratan kurang lengkap, bisa banget peserta dinyatakan tidak lolos di tahapan ini. Kasus yang sering terjadi adalah kurang cap dan tidak melampirkan bukti sebagai pegawai potensial. Untuk pegawai potensial, tidak cukup hanya dengan melampirkan surat pernyataan yang ditandatangani minimal eselon III. Perlu ada pendukung ya, manteman misalnya piagam kejuaraan, keputusan sebagai pegawai teladan, atau tulisan yang terpublikasi di jurnal/ media nasional. Cek dan ricek, pastikan jangan sampai ada salah ketik di setiap surat-surat pendukung dan tentunya baik-baikin atasan agar dapat tanda tangan di surat-surat yang dibutuhkan. 

Tahapan yang selanjutnya adalah seleksi akademik. Untuk MINTS 2021, seleksi ini diadakan di PKN STAN dan 11 Balai Diklat Keuangan. Lokasi ini bisa dipilih sebelumnya oleh para peserta. Agar tetap menerapkan protokol kesehatan dan menghindari kerumuman, seleksi ini diadakan selama beberapa hari. Oiya, seleksi ini seperti seleksi akademik FETA yang aku ikuti tahun sebelumnya yang terdiri dari tes kemampuan bahasa asing (TKBA) dan tes potensi akademik (TPA). Namun, kali ini tes diadakan menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT) dan 2 jenis tes dilaksanakan di satu hari yang sama.

Untuk menghadapi tes ini, aku mempersiapkan diri dengan BELAJAR sejak adanya pengumuman penawaran beasiswa MINTS. Aku usahakan meluangkan hampir setiap malam sepulang kerja dan saat akhir pekan untuk belajar bahasa Inggris dan TPA secara bergantian. Untuk TKBA aku belajar dari buku TOEFL Preparation, sedangkan untuk TPA aku belajar dari buku kumpulan soal USM STAN. Karena saat itu pekerjaan sedang seru-serunya, aku merasa persiapanku kurang maksimal. Malam sebelum ujian aku sempat down karena belum siap dan takut tidak lolos. Akhirnya aku telpon Bapak Ibu dan kakakku untuk meminta dukungan moral. Huhuhu.

Hari ujian pun tiba. Oiya, aku dapat lokasi di PKN STAN dengan jadwal di hari terakhir seleksi akademik. Karena jarak yang lumayan jauh dan khawatir kena macet, aku berangkat dari kos pukul 5 pagi. Aku sampai di PKN STAN tuh jam 6 pagi dan termasuk peserta yang datang awal. Lebih baik kepagian deh, daripada telat terus nantinya gagal fokus saat ujian. 

Secara umum, aku bisa mengerjakan soal-soal yang diujikan dengan lumayan lancar. Menurutku dan beberapa teman yang pernah mengikuti seleksi FETA sebelumnya, soal tahun 2021 level agak sedikit lebih ringan dibadingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun demikian, untuk hasilnya aku pasrah aja kepada Alloh. Kalu untukku ini lebih mudah, tentu peserta yang lain pun merasakan yang sama kan. Apalagi beberapa peserta seleksi adalah teman-teman di angkatanku saat DIII, dengan capaian IPK yang sangat lebih tinggi dibandingkan aku. 

Hari pengumuman seleksi akademik pun tiba. Seharian aku tuh nggak tenang. Eh, pengumumannya muncul setelah jam kerja dong ya. Alhamdulillah, aku lulus di tahapan ini. :D

Beberapa hal yang mungkin diperhatikan oleh manteman para pegawai Kemenkeu yang berniat mengikuti seleksi beasiswa MINTS 2022 (barusan dibuka nih, pengumumannya bisa dilihat di sini) untuk seleksi admnistrasi dan seleksi akademik adalah:

1. Perhatikan tanggal batas pendaftaran baik di unit eselon I maupun di Semantik. 

2. Cek, cek, dan cek berkas kelengkapan sebelum minta tandataangan ke atasan, sebelum dikirim ke PIC di unit eselon I, dan sebelum diunggah ke Semantik. Jangan sampai ada salah ketik, kurang cap, lupa materai dll. Terkait syarat pegawai potensial nggak hanya surat pernyataan yang ditandatangani minimal eselon III, tapi harus ada bukti lampirannya. Kalu merasa perlu, minta orang lain untuk bantu mengecek, biasanya semakin banyak mata yang melihat, bisa lebih teliti.

3. Jangan jadi deadliner, untuk antisipasi ada kekurangan berkas. 

4. Bulatkan tekad dan niat. Kalu ingin ikut seleksi dan dapat beasiswa jangan hanya FOMO karena teman seangkatan/ bestie/ gebetan ikutan. 

5. Benar-benar sisihkan waktu untuk BELAJAR. Klise memang, tapi ini memang penting, wankawan. Kecuali kalian sudah yakin bahwa kalian pintar bahasa Inggris dan jago TPA. Untuk TKBA kalian bisa belajar buku preparation TOEFL ITP, sedangkan TPA bisa belajar dari USM PKN STAN dan TPA Bappenas. Kalu ada waktu, coba tes TOEFL dan/atau TPA Bappenas. 

Oiya, kenali tipe belajar kalian ya. Kalu aku tipe orang yang sampai H-30 menit sebelum ujian masih belajar, tapi ada juga orang yang H-1 harus menenangkan diri nggak belajar

6. Kalu ada hal-hal yang tidak jelas, jangan ragu untuk bertanya ke sumber-sumber terpercaya misalnya PIC tugas belajar di unit eselon I masing-masing atau ke akun Instagram @obrolanbeasiswa yang dikelola oleh PPSDM.

7. Saat seleksi akademik, jangan sampai telat datang di lokasi. Ini bisa mempengaruhi mental dan kesiapan diri (kalu aku sih gitu ya). Malam sebelum seleksi akademik, jangan sampai begadang, agar saat hari H fresh.

Wokeideh, manteman, demikian ocehan kali ini. Tunggu kelanjutan cerita perjalananku untuk kuliah lagi di ocehan selanjutnya. Dadaaah! 


Jumat, 11 Maret 2022

Perjalanan Lanjut Kuliah Lagi: Bagian 2 Beasiswa FETA 2020

Haihai, manteman pembaca! Kali ini aku akan melanjutkan ocehan pengalamanku mengikuti seleksi beasiswa FETA 2020. 

Seleksi beasiswa FETA terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:

1. Seleksi administrasi.

2. Seleksi tertulis tahap I.

3. Seleksi tertulis tahap II.

4. Seleksi wawancara.

Di tahapan pertama, para peserta diminta untuk mengumpulkan beberapa dokumen misalnya hasil pindai ijazah dan transkrip nilai DIV/S1 dan/atau DIII bagi yang akan daftar program S2, hasil pindai Kep Kenaikan Pangkat terakhir, Surat Keterangan Tidak Sedang Menjalani Hukuman Disiplin (minimal dari Eselon III), Surat Rekomendasi Atasan Langsung/ Kepala Kantor, Surat Keterangan Berbadan Sehat dari Dokter Pemerintah dan beberapa berkas lain. Dokumen-dokumen itu diunggah untuk melengkapi proses pendaftaran online di laman Semantik. Selain itu, para peserta juga harus mendaftarkan diri ke unit eselon I masing-masing. Mungkin nggak sih ada yang gagal di seleksi administrasi ini? Tentu saja mungkin dong, pemirsa, misalnya ada yang kurang cap atau yang nggak mendaftar di Semantik atau justru nggak daftar ke unit eselon I. 

Selanjutnya, peserta yang dinyatakan lulus seleksi administrasi akan mengikuti seleksi tertulis tahap I. Nah, FETA menyediakan beberapa alternatif untuk tahapan ini yang dibagi menjadi beberapa kelompok berikut:

1. Kelompok Satu, diwajibkan untuk menyetorkan sertifikat:

a. TPA Bappenas dengan skor minimal 565 atau hasil seleksi tertulis tahap I Pusdiklat Pengembangan SDM pada periode sebelumnya.

b. TOEFL iBT dengan skor minimal 79 atau IELTS minimal 6,5 yang masih berlaku.

2. Kelompok Dua, harus mengirimkan sertifikat:

a. TPA Bappenas dengan skor minimal 565 atau hasil seleksi tertulis tahap I Pusdiklat Pengembangan SDM pada periode sebelumnya.

b. TOEFL ITP atau PBT dengan skor minimal 475 yang masih berlaku atau English Competency Test (ECT) minimal 475 untuk yang program S2 (kalu yang S3 skor minimalnya 550)

3. Kelompok Tiga adalah peserta yang tidak masuk ke kedua kelompok di atas dan harus mengikuti seleksi tulis yang terdiri dari Tes Kemampuan Bahasa Inggris (TKBI) dan Uji Potensi Akademik (TPA).

Jika dilihat di beberapa blog yang ditulis oleh penerima beasiswa FETA, kebanyakan mereka memilih untuk menyampaikan sertifikat TPA Bappenas dan/atau TOEFL PBT. Tapi aku memilih cara yang berbeda dengan mengikuti tes tulis ajah. Alasannya karena dengan menjadi anggota Kelompok Tiga aku punya waktu belajar yang lebih lama. Selain itu, nggak perlu repot-repot ke lokasi tes TPA Bappenas dan TOEFL. Tentunya yang paling penting adalah gratis ya para pembacaa. Wkwk. Tapi ini cukup berisiko sebenernya karena kata seniora-seniorita yang pernah ikutan seleksi FETA di tahun-tahun sebelumnya tesnya susyeeeeh. 

Begitu pengumuman lokasi tes muncul, alhamdulillah aku dapat di auditorium kantorku sendiri. Nggak perlu menempuh perjalanan jauh menguras tenaga di pagi hari. Tapi, masalahnya yang ngawas nanti adalah manteman seruanganku sendiri. Selain itu, tes diadakan di auditorium besar yang mana di dalam ruangan akan ada puluhan orang peserta ujian. Agak tekanan mental sih sebenernya. Tapi mau gimana lagi kan ya. Oiya, seleksi TPA dan TBKI untuk FETA 2020 dipisah ya harinya.

Hari pertama adalah seleksi TPA dan di situlah aku percaya perkataan seniors. TPAnya sebenernya setipe dengan USM STAN tapiii jauh amat sangat susah, levelnya dewa! Aku benar-benar merasa kesulitan. Stategi yang ku terapkan adalah mengerjakan soal yang bisa aku kerjakan aja dulu. Begitu ketemu yang susah ditinggalkan. Oiya, karena tidak ada sistem minus, di akhir-akhir ada beberapa nomor yang aku jawab asal tembak dengan menyebut Bismillahirrahmanirrahim. Setelah selesai, ternyata para peserta di sekelilingku juga bertampang suram sepertiku. Seenggaknya bukan aku saja sih yang merasa itu sulit. Wkwk. 

Hari kedua adalah TKBI. Sebisa mungkin aku mencoba melupakan huru hara seleksi hari pertama dan fokus ke ujian hari itu. Oiya, TKBI ini semacam TOEFL PBT  ya bentukan soalnya (ada listening, structure, and reading). Alhamdulillah sih hari kedua lebih mending. Di titik itu aku sudah pasrah dengan hasil seleksinya karena aku merasa telah melakukan yang terbaik yang aku bisa.

Jarak pelaksanaan tes dan pengumuman hasilnya tuh 1 minggu. Meskipun sudah pasrah, tapi di tanggal pengumuman tetap aja aku deg-degan. Seharian rasanya aku kurang fokus kerja. Daaan.. ternyata pengumumannnya sore dong. Alhamdulillah tanpa disangka aku lolos di tahapan seleksi tahap 1 itu. Huaaah... senang, kaget, nggak nyangka, terharu, campur aduk deh rasanya. Apalagi ternyata tante Iko yang ikutan seleksi juga dari Kelompok Dua juga lolos. Alhamdulillah ya Alloh.

Selanjutnya adalah seleksi tulis tahap II yang diadakan sekitar 10 hari setelah tanggal pengumuman seleksi tulis tahap I. Seleksi ini meliputi psikotes dan penulisan esai. Aku pun bertanya ke temanku yang lolos tahun sebelumnya (FETA 5). Ternyata psikotesnya seharian ya para pembaca dengan berbagai macam tes. Setelah selesai psikotes, peserta akan diminta untuk menuliskan essai tentang jurusan, kampus, rencana penilitian, rencana studi, kontribusi yang akan dilakukan, dan gambaran 10 tahun mendatang

Untuk FETA 2020, ada yang sedikit berbeda. Beberapa hari sebelum pelaksanaan seleksi, panitia dari PPSDM mengirimkan form daftar riwayat hidup yang harus dilengkapi dan nantinya dikumpulkan saat pelaksanaan ujian. Form itu selain berisi biodata diri juga ada beberapa pertanyaan seperti kelebihan dan kekurangan, buku yang paling disukai (aku milih Bumi Manusia karena kan aku anak fiksi wkwk), motivasi sekolah lagi, kompetensi dan pengetahuan yang ingin diasah, alasan memilih jurusan yang akan diambil dll.

Hari seleksi tulis tahap II pun datang. Oiya, seleksi lagi-lagi diadakan di auditorium kantorku sehingga transportasi aman buatku. Tapi kesian tante Iko yang harus berangkat pagi buta dari Bintaro. Huhu. Seperti yang dibilang sama temanku seleksi ini terdiri dari beberapa bagian. Di awal ada tes IST yang terdiri dari 9 sub tes. Kemudian ada tes menggambar orang dan pohon, tes warteg (8 kotak), dan tentunya ada tes pauli dong. Seingatku ini dari jam 8 s.d hampir jam 2 siang. Setelah jeda untuk ishoma, para peserta melanjutkan perjuangan di sesi menulis esai yang aku isi ala kadarnya. Sudah habis rasanya tenagaku di sesi psikotes pagi. Huhuhu.

Di hari pengumuman seleksi tertulis tahap II, aku sangat gelisah dan nggak fokus kerja. Sampai malam tidak ada tanda-tanda pengumuman akan muncul. Kuputuskan untuk tidur karena sudah lelah menanti seharian. Keesokan harinya saat membuka WA ada teman yang membagikan pengumuman di grup. Ternyata namaku tidak ada di pengumuman itu. :( Ya, aku gagal di tahap seleksi ini. Sedih dan kecewa sih pasti. Sampai beberapa hari tuh rasanya masih nggak percaya. Sampai ada teman yang bilang, "It's ok that you feel sad. But, remember, failure doesn't define you". Ini kayak ngingetin aku banget sih untuk jangan menyerah dan bangkit lagi.

Eh, beberapa saat setelah pengumuman seleksi tertulis tahap II ternyata negara api menyerang, eh muncul kasus Corona pertama di Indonesia. Berubahlah tata kehidupan dunia. Misi lanjut kuliah pun ku tunda dulu. Aku pun kembali fokus berkerja dan menjaga diri agar sehat jiwa dan raga. 

Penasaran kelanjutan ceritaku melanjutkan kuliah? Tunggu di ocehan selanjutnya ya, para pembaca. See you.

Kamis, 24 Februari 2022

Perjalanan Lanjut Kuliah Lagi: Bagian 1

Haihai, para pembaca!

Sepertinya sudah lama sekali, aku nggak mengoceh di sini. Nah, mumpung aku lagi bahan yang bisa dibagi, aku akan mengoceh kembali. Hahaha.

Kali ini aku akan mengoceh tentang perjalananku untuk kuliah lagi. Ocehanku akan aku bagi menjadi beberapa bagian. Kalu dijadiin satu, akan jadi sangat panjang sekali. Biar aku nggak lelah mengetik dan kalian nggak bosan bacanya, aku pecah saja ya ocehanku. *Biar kalian juga sering-sering berkunjung juga sih di sini. Ehehe

Alasan utama aku lanjut kuliah tuh karena sudah kangen dengan situasi saat belajar di kampus. Kalu diingat, masa kuliah S1 di Solo tuh sangat menyenangkan dan berkesan. Pingin bangetlah mengulang masa itu. Selain itu, banyak drama yang terjadi di kantor selama tahun 2019 dan 2020 yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Aku rasa aku butuh rehat dari hiruk pikuk suasana kantor. Jadi, aku putuskan kalau aku harus segera lanjut kuliah.

Sejak diterima di D3 STAN, aku punya tekad untuk berusaha melanjutkan sekolah secara gratis atau dengan mencari beasiswa. Alasan utama tentunya biaya. Dengan beasiswa, nggak perlu repot-repotlah mikir biaya kuliah. Apalagi saat aku dapat beasiswa STAR untuk S1, ada tambahan fasilitas biaya hidup dan biaya buku. Alasan lainnya adalah aku ingin fokus. Untuk PNS, jika belajar dengan beasiswa ybs akan berstatus tugas belajar dan tidak aktif di kantor. Berbeda kalu kuliah dengan biaya sendiri (istilahnya izin belajar) yang harus tetap bekerja selama kita kuliah. Aku nggak yakin kalu aku mengambil izin belajar nantinya akan bisa mengatur waktu dengan baik dan bisa fokus belajar saat kuliah karena waktu kuliah biasanya setelah jam kerja. 

Berbeda dengan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di jenjang S1/DIV yang sangat terbatas, pilihan beasiswa untuk S2 tuh lebih banyak dengan berbagai macam lembaga donor atau pemberi beasiswa. Ada negara sebagai donor misalnya pemerintah Australia untuk beasiswa AAS,  pemerintah Inggris untuk beasiswa Chevening, pemerintah Ameriksa Serikat untuk beasiswa Fullbright dan masih banyak lagi. Selain itu juga ada beasiswa dari kementerian atau lembaga misalnya dari BAPPENAS, Kominfo, LPDP dll. Dari sekian banyak beasiswa, aku mengincar beasiswa FETA yang khusus diberikan oleh Kementerian Keuangan bagi para pegawainya.

Ada beberapa alasan aku tertarik dengan beasiswa FETA. Yang pertama, berbeda dengan basiswa lain yang di tahapan awal meminta syarat sertifikat kemampuan bahasa Inggris (TOEFL atau IELTS), FETA menawarkan opsi seleksi tertulis. Kedua, FETA memiliki program persiapan keberangkatan yang memfasilitasi para penerima beasiswa untuk belajar bahasa Inggris secara intensif. Selama program ini, para penerima beasiswa akan diasramakan dan bebas dari tugas kantor (yeay!). Ketiga, FETA memungkinkan para penerima beasiswa untuk memilih kampus di negara mana pun sesuai keinginan masing-masing asalkan masuk ke dalam daftar 100 universitas terbaik dunia. Jelas-jelas menggiurkan kan itu semua?

Karena aku lulus kuliah S1 bulan September 2017, aku baru bisa mendaftar beasiswa S2 setelah bulan September 2019. Jadi, di internal Kementerian Keuangan ada aturan bagi para pegawai yang telah menyelesaikan tugas belajar, ybs baru bisa daftar beasiswa untuk jenjang pendidikan di atasnya 2 tahun sejak tanggal lulus (info lebih lengkap bisa dicek di PMK tugas belajar). Sebenarnya di bulan September 2019 ada pembukaan pendaftaran beasiswa LPDP yang berdasarkan pengamatanku peluangnya cukup bagus karena jumlah awardee yang cukup banyak di setiap batch. Tapi saat itu aku belum memiliki sertifikat kemampuan Bahasa Inggris. Aku juga barusan banget dapat job desc baru. Banyak penyesuaian yang harus aku lakukan, belum lagi peak season sudah di depan mata. Nggak sempatlah aku mempersiapkan diri untuk tes IELTS atau TOEFL. Daripada memaksakan diri terus hasilnya nggak bagus dan aku kuciwa, yasudahlah aku nggak ikutan LPDP.

Ternyata di akhir November 2019 ada penawaran program beasiswa Pascasarjana Kementerian Keuangan (FETA Scholarship) tahun 2020. Saat itu, proyek yang jadi tanggung jawabku pun baru saja selesai. Jadi, aku putuskan untuk mendaftar beasiswa tersebut. 

Cerita tentang perjalananku mengikuti seleksi beasiswa FETA aku lanjutkan di ocehan selanjutnya ya, manteman. Sampai jumpa.


Minggu, 26 Juli 2020

Kuy, Segera Donor Darah!



Utas ini aku temukan di linimasa Twitter bulan lalu. Sedih deh pas baca. :(
Aku punya saudara sepupu yang anaknya juga mengidap penyakit Thalassemia, jadi aku tahu seberapa besar pentingnya tranfusi darah bagi keberlanjutan hidup pengidap penyakit itu.

Sesaat setelah membaca utas di atas itu aku sebenarnya ingin langsung donor. Dari segi waktu, sebenarnya aku sudah memenuhi syarat untuk donor karena sudah lebih dari 3 bulan sejak donor terakhirku pada bulan Desember tahun lalu.  Namun, ada 2 alasan yang tidak memungkinkan aku untuk donor. Yang pertama karena pandemi COVID-19. Yang kedua karena nggak ada yang nemenin.

Ya, semua sudah tahulah ya, karena pandemi COVID-19 yang melanda, kita semua dianjurkan untuk di rumah aja. Sejak mulai pemberlakuan WFH di bulan Maret lalu sampai akhir bulan Mei, aku mengungsi ke Bekasi. Sepanjang periode itu, aku benar-benar mematuhi anjuran untuk di rumah aja. Aku pergi ke luar rumah hanya untuk keperluan yang mendesak misalnya belanja barang yang nggak mungkin dibeli secara daring dan ambil uang di ATM. 

Ke PMI untuk donor darah, saat itu menurutku bukan masuk ke kategori keperluan mendesak. Pun selama periode di rumah aja itu, entah kenapa tekanan darahku selalu berada di bawah kategori baik. Meskipun sudah makan daging kambing, tetap saja tekanan darahku tidak kunjung kembali ke kondisi baik seperti biasanya.

Nah, untuk alasan kedua, tentu sebagian dari kalian ada yang berkomentar, kok kamu manja banget sih, Nya? Eits, ini ada ceritanya ya. Saat donor terakhir itu ada drama yang terjadi. Setelah donor, aku tuh sempat pingsan di mushola PMI Kramat. Padahal sebelum donor dan sesaat setelah donor aku baik-baik saja lho, nggak merasa pusing atau lemas sama sekalipun. Hasil konsultasi dengan dokter Poliklinik kantor, itu mungkin karena aku langsung sholat sesaat setelah donor. *Iya, aku pingsannya saat sholat Magrib. Karena peristiwa ini, Ibuk selalu mewanti-wanti aku kalau mau donor, harus ada temannya.

Setelah sebulan aku maju mundur mau donor, hari ini aku putuskan untuk donor di PMI Kramat. Sendirian sih karena nggak tahu mau ngajak siapa di kondisi saat ini. Bismillah deh. Aku berpikir, niatku kan baik insya Alloh akan dimudahkan. 

Alhamdulillah, donor hari ini berhasil, gengs. Tekanan darahku oke dan haemoglobin (Hb) pun melewati syarat minimal (lebih tinggi dibanding biasanya malahan. Ehei). Sedikit drama adalah durasi waktu donorku yang lebih lama aja sih dibanding orang lain. Itu terjadi karena alasan klasik sih, pembuluh darahku kecil. *Nggak percaya ya, kalian, aku yang badannya sebesar ini pembuluh darahnya kecil. Wkwk. Aku berharap semoga darahku bisa bermanfaat bagi orang yang membutuhkan.

Nah, selanjutnya aku mau mengajak kalian yang kondisinya memungkinkan untuk ikut berdonor. Kondisi yang memungkinkan tuh gimana sih? Mengutip dari laman PMI Indonesia, syarat kalian bisa donor antara lain, harus sehat jasmani dan rohani; berusia 17 s.d. 65 tahun; memiliki berat badan minimal 45 kg; tekanan darah sistole 100-170 dan diastole 70-100; kadar haemoglobin 12,5 g% s.d. 17,0g%; dan jarak dengan waktu donor sebelumnya adalah 12 minggu atau 3 bulan. Oiya, kalu yang perempuan ada syarat tambahan tidak sedang menstruasi atau hamil atau menyusui. Untuk kondisi memungkinkan yang lain misalnya pengidap penyakit apa yang nggak boleh donor bisa dicek di laman ini ya. 

Ternyata ketika kita mendonorkan darah, kita tuh nggak hanya membantu orang lain lho. Kita juga mendapatkan beberapa manfaat, yaitu menjaga kesehatan jantung dan membuat darah mengalir lebih lancar, meningkatkan produksi sel darah merah, mengurangi risiko kanker, dan yang pasti bisa tahu kondisi kesehatan kita. Fyi, darah yang kita donorkan tuh nggak langsung disalurkan ya. Akan dicek dulu di lab. Jika ada yang bermasalah, darah kita nggak akan disalurkan ke yang membutuhkan. Kita juga akan diinfo oleh PMI tentang masalah tersebut.

Berdasarkan pengalamanku nih ya, ada beberapa tips and trick yang bisa kalian praktikkan terkait donor darah, yaitu:
a. Pastikan kalian tidur yang cukup saat malam sebelum donor dan kalian dalam kondisi sehat wal afiat jasmani dan rohani. Buat yang perempuan, sebaiknya kalian sudah selesai menstruasi seminggu sebelum waktu donor.
b. Makan makanan yang sehat beberapa hari sebelum donor biar kondisi badan dan darah kita tuh oke. Yang langganan hb-nya rendah seperti aku bisa perbanyak makan sayuran hijau, daging merah, atau kacang-kacangan.
c. Sebelum donor pastikan kalian sudah makan dan usahakan banyak minum air putih.
d. Beberapa hari sebelum donor jangan minum obat ataupun vitamin.
e. Kalau bisa jangan datang ke tempat donor darah sendirian, apalagi buat kalian yang baru pertama kali donor. *Kelakuanku yang naik motor sendiri ke tempat donor itu jangan ditiru ya, nggak baik. 
f. Setelah pemeriksaan dokter ok dan kalian bisa donor, cuci dulu ya lengan kalian.
g. Saat donor jangan tegang. Kalu kalian tegang, pembuluh darah akan "sembunyi" dan susah ditemukan. 
Khusus buat kalian yang trauma atau takut dengan suntikan, beberapa hal yang bisa kalian lakukan adalah:
- Nggak usah liat saat petugasnya menusukkan jarum dan saat proses pengambilan darah. 
- Kalian juga bisa bilang ke petugasnya. Biasanya petugas pengambil darah akan membantu kita dengan mengajak ngobrol sehingga fokus kita teralihkan. 
- Tanamkan sugesti ke pikiran kalian, "iya itu jarum emang lumayan besar ukurannya, tapi saat ditusuk itu rasanya seperti digigit semut kok." *Pssst.. ini tuh yang aku lakukan saat donor darahku yang pertama.
- Ikuti instruksi yang dikasih petugas pengambil darah, insya Alloh semua akan baik-baik aja.
- Biar proses pengambilan darah cepat, gerakin jari tangan dengan membuka dan menggenggam karena gerakan ini akan memperlancar aliran darah. Kadang kalu sedang beruntung, kita dapat pinjaman bola lunak dari petugas untuk membantu gerakan jari tangan ini.
h. Sebaiknya kalian ingat tuh, kalian pasnya diambil darah di lengan yang mana. Ada orang macam aku yang lebih baik jika diambil darahnya di lengan kanan karena posisi pembuluh darah di lengan kiriku ada di dalam banget. 
i. Setelah donor kalian sebaiknya:
- Istirahat paling nggak 15 menit ya. Fyi, nggak apa-apa lho kalu kalian tiduran dulu sebentar (5-7 menit) di tempat tidur/velbed sesaat setelah kalian donor. Petugas paham kok kalu kalian butuh istirahat. Setelah itu duduk dulu deh sekitar 10-15 menit.
- Kalu bisa, setelah donor kalian makan sesuatu atau minum susu ya, tujuannya agar kalian bisa segera memulihkan tenaga. 
- Jangan langsung sholat ya manteman setelah donor. Gerakan sholat yang cenderung tiba-tiba bisa membuat badan "kaget" padahal kondisinya kita masih pemulihan.
- Jika setelah donor kalian pusing, bilang ke petugas yang ada, biar kalian bisa segera dapat pertolongan.
- Kalau bisa, sesampainya di rumah kalian langsung tidur deh. 
- Untuk menghindari bengkak di bekas suntikan, kalian jangan angkat-angkat beban yang berat dulu selama 12 jam pasca donor. *Beban hidup yang berat lupain dulu lah.wkwk.
j. Kalu setelah donor, ternyata kalian mengalami hematoma (pendarahan kecil pada permukaan di bawah kulit, karena darah merembes sehingga menyebabkan warna menjadi biru keunguan biasanya setelah 5 jam kemudian), penanganannya bisa cek gambar di bawah ini.



Kalian nggak perlu khawatir dengan penularan COVID-19 di PMI. Berdasarkan pengalamanku tadi, di PMI Kramat diberlakukan protokol kesehatan kok. Di pintu masuk kita akan disambut oleh petugas yang akan mengecek suhu tubuh kita (Udah nggak usah khawatir dengan jidat yang ditembak) dan memberikan formulir untuk kita isi. Formulir ini terdiri dari formulir yang biasanya kita isi untuk donor dan formulir untuk mengecek kondisi kita terkait COVID-19. Di ruang tunggu pun posisi duduknya diatur sehingga kontak fisik dengan pendonor yang lain dibatasi. Setelah pemeriksaan dokter oke, kita akan dikasih masker. Nah, saat di ruangan transfusi kita harus mengganti masker yang kita pakai dengan masker yang baru itu.

Jadi tunggu apalagi nih, manteman? Kuylah segerah donor darah!


Minggu, 21 Juni 2020

Apa yang Salah dengan Mengirim Hampers?

Wah, ternyata sudah sekian lama berlalu ya sejak ocehan terakhirku di sini. Jujur aja deh, mengunggah gambar di Instagram dan membuat ocehan di Twitter lebih menyenangkan karena lebih mudah dilakukan dibanding membuat satu ocehan ini. Ehehe. *Memang dasarnya aku malas mikir dan ngetik aja sih.

Namun, akhir-akhir ini ada beberapa hal yang menggangguku dan membuatku gatal untuk mengoceh di sini. Salah satunya adalah pendapat nyinyir tentang orang yang saling berkirim bingkisan/ parsel/ hampers (emang banyak ini istilahnya) saat lebaran kemarin. Apa sih yang salah dengan mengirim hampers (pakai istilah ini aja ya karena ini yang terkini) ?

Seperti yang kita ketahui bersama, karena pandemi COVID-19 yang melanda, banyak yang berubah dalam hidup kita. Salah satu yang paling berkesan sedihnya adalah momen Lebaran. Karena kita dihimbau oleh pemerintah untuk nggak pulang kampung, jadinya kita nggak bisa merayakan lebaran bersama keluarga dan teman seperti biasanya. Nggak ada salaman dan cium tangan secara langsung, silaturahmi hanya bisa secara virtual dengan video call. *aaah, ingat ini jadi sedih lagi. :(

Nah, karena banyak yang nggak bisa bertemu secara langsung, trus mungkin merasa kalu video call masih kurang untuk bersilaturahmi, beberapa orang pun mengirimkan hampers ke teman/ keluarga/ kenalannya. Dari semenjak pertengahan bulan Ramadhan kirim-kiriman ini mulai hype dan banyak bersliweran di lini masa. Yang dikirim pun macam-macam bentuknya ada yang berupa makanan, minuman, baju, alat makan, jilbab, dll sesuai dengan selera dan kreatifitas masing-masing.

Aku secara pribadi senang melihat tren ini. Ternyata masih banyak ya orang-orang baik. Di saat mungkin diri sendiri susah dan sedih, mereka masih peduli dan memikirkan orang lain lho. Yang mengirim hampers pastinya ingin yang dikirimi itu merasa senang dan terhibur. Sebagai orang awam dan naif aku mikirnya seperti itu.

Namun, ternyata dunia ini tidak seputih yang ku kira. Ternyata masih ada lho orang yang nggak suka dan berkomentar negatif tentang kegiatan kirim-kiriman hampers ini. Dibilanglah kalu kirim-kiriman hampers ini hanya semata-mata untuk pencitraan di media sosial. Orang yang mengirim dibilang nggak peka, karena orang yang nerima bakal merasa terbebani, merasa ada kewajiban untuk membalas kiriman.

Duh, nggak habis pikir deh aku dengan orang-orang yang berpikiran negatif seperti itu. Di saat situasi yang suram dan menyedihkan seperti sekarang, kok ya malah memilih buat memburuk suasana sih. Ok, ketika ada di situasi sulit, kita cenderung untuk menjadi gampang gelisah, marah, kesal, dan menjadi negatif. Namun, coba deh menahan diri sedikit aja untuk nggak jadi menyebalkan dan berkomentar nggak enak.

Dalam pemikiranku, nggak ada yang salah sama sekali dengan berbagi, dalam hal ini saling mengirimkan hampers. Kalu memang ada orang yang mengunggah kirim-kiriman hampers di media sosial, ya anggap sedang berbagi cerita ke kita. Jadikan cerita itu sebagai pengingat atau bahkan inspirasi bagi kita untuk berbagi juga ke keluarga/teman kita. Kalu memang mereka beneran hanya ingin pencitraan, yasudah itu urusan mereka. Jika nggak mau memberatkan teman yang kita kirimi hampers, ya bilang aja ke mereka kalu kita hanya ingin berbagi kebahagian, ingin menghibur mereka, menunjukkan rasa sayang atau sekedar ingin mengucapkan salam "hai" ke mereka. Kalu nggak, kirim aja hampers secara anonim, nggak usah mencantumkan nama kita sebagai pengirim. Toh intinya kita ingin berbagi kan?

Oh iya, kemarin ada teman yang berkomentar kalu dia khawatir saat menerima kiriman hampers nanti menyalahi aturan dari kantor yang melarang pegawainya untuk menerima pemberian dari orang lain. Kita sudah bisa menilai dan memilah lah ya mana kiriman yang boleh kita terima dan mana yang nggak. Kalu memang itu bisa menimbulkan konflik kepentingan ya ditolak aja. Namun, kalu dari teman ya apa salahnya kita terima.

Menurutku, ketika mengirim hampers ini sebenernya kita sedang berbagi kebahagiaan lho. Yang menerima jelas senang karena menerima hampers dan merasa terhibur (ya kan?). Sementara yang mengirim juga merasa senang karena bisa berbagi dan menunjukkan rasa sayang ke penerima hampers. Simbiosis mutualisme lhoh ini. Oh iya, ada pihak eksternal lain yang senang lho, si penjual hampers tentunya, dan kalu kita membeli secara daring, orang-orang di perusahaan jasa pengiriman juga akan merasa senang. Masih berpikir kalu mengirim hampers itu salah?

Memang beginilah dunia, ada berbagai banyak macam warnanya. Kalu nggak bisa jadi putih, minimal jangan jadi hitamlah. Kalu memang nggak bisa menjadi positif, minimal jangan jadi negatif dan memperkeruh suasana. Di kondisi seperti sekarang, lebih baik kita saling menghibur dan menguatkan dibanding menjatuhkan yang lain kan?

Sampai jumpa di ocehan yang selanjutnya.


Minggu, 31 Desember 2017

Di Akhir 2017

Saat ini tanggal 31 Desember 2017. Nggak terasa ya kita telah berada di penghujung tahun 2017. Besok kita akan memasuki tahun baru, 2018.

Untukku tahun 2017 ini adalah tahun yang penting bahkan bisa dibilang luar biasa. Banyak hal-hal yang berkesan dan capaian penting dalam hidupku yang terjadi di tahun ini.

Yang paling berkesan tentunya adalah kelulusan S-1. Aku pernah janji ke Bapak dan Ibuk untuk segera menyelesaikan pendidikan S-1 begitu aku tamat D-3 STAN. Alhamdulillah di tahun ini aku bisa mewujudkan janji itu. Tapi sayangnya aku nggak bisa memenuhi keinginan Ibuk untuk ikut wisuda karena kesibukan di kantor. Jadwal wisudaku di bulan Oktober kemarin, saat aku sudah kembali ke kantor. :(

Jika ada yang bertanya, dari 2 tahun masa pendidikan S-1, fase mana yang paling berat, aku akan jawab fase skripsi. Kebetulan dosen pembimbingku orangnya cukup susah. Maksudnya cukup susah tuh beliau cukup susah untuk ditemui karena jadwalnya yang padat dan punya banyak bimbingan. Bahkan, jadwal sidang pendadaranku harus diundur karena kesibukan beliau. Selain itu, beliau cukup susah untuk memberikan persetujuan. Akan tetapi, saat sidang, beliau surprisingly bersedia membantu dan bersedia memberikan nilai yang bagus. :D

Selain itu dapat dosen yang cukup susah, aku cukup kesulitan untuk dapat data. Ya, ada sedikit dramalah yang terjadi saat pengumpulan data skripsiku. Namun, yang paling berat adalah melawan diri sendiri. Wkwk. Berat deh rasanya untuk mengumpulkan niat dan semangat menulis dan menghindari godaan nonton drama korea dan ajakan main dari teman-teman. Long story short, alhamdulillah, semuanya sudah terlewati dengan hasil yang memuaskan.

Dengan selesainya pendidikanku dan surat tugas belajar yang juga telah berakhir, aku pun harus kembali ke kantor. Aku tetap ditempatkan di kantor pusat di Jakarta, gedung dan lantai yang juga masih sama. Secara organisasi, aku masih berada di unit eselon II yang sama, tapi bergeser dikit lah, ke unit eselon III yang lain.

Lagi-lagi diperlukan proses adaptasi. Adaptasi pembagian waktu karena ritme kerja yang berbeda dengan ritme kuliah. Adaptasi sikap dari gaya mahasiswa yang santai dan selow ke gaya pegawai yang lebih serius (Rrr.. nggak juga sih. wkwkwk). Adaptasi pola pikir karena pekerjaanku yang sekarang cukup berbeda dengan yang sebelum kuliah. Serta tentunya adaptasi dengan orang-orang baru. Alhamdulillah, sampai saat ini proses penyesuaianku bisalah dikatakan cukup berhasil.

Trus di tahun 2017 tepatnya di bulan Maret aku memutuskan untuk memperbaiki pola hidup. Aku mengubah pola makan dengan lebih memperbanyak asupan sayur dan buah. Selain itu, aku pun berusaha untuk lebih banyak berolahraga. Memang belum maksimal sih, karena aku masih cukup gemuk, tapi berat badanku sudah turun sekitar 15 kg. Yeay!

Sebenarnya aku dan beberapa teman punya beberapa check list yang harus dipenuhi selama kami di Solo. Di akhir-akhir masa kuliah, ada dua check list yang berhasil kami penuhi yaitu nonton wayang orang di Sriwedari dan nonton pertunjukkan sendratari Ramayana di Prambanan. Tapi, masih ada dua check list yang belum sempat kami lakukan yaitu naik kereta api Bathara Kresna dari Solo ke Wonogiri dan naik bus tingkat Gatotkaca. Semoga di lain kesempatan bisa terpenuhi lah ya.

Aku juga berkesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat baru di tahun ini. Di awal Januari, seperti yang aku tulis di ocehan sebelumnya, aku sempat pergi ke liburan ke Bali. Di tengah-tengah penyusunan skripsi aku juga sempat main ke air terjun Semawar Sedinding di daerah Tawamangu. Jelang akhir masa kuliah, aku dan beberapa teman pergi ke beberapa pantai di Pacitan (aku rekomendasikan kalian untuk mengunjungi pantai-pantai di Pacitan, worth it!).

Di awal bulan Desember kemarin, aku dapat tugas untuk mengunjungi kota di penghujung timur Indonesia. Yup, Merauke. Jangan bayangkan ya, kota Merauke itu sepi dan rusuh. Fyi, kota Merauke itu seramai kota yang ada di Jawa. Di sana tuh suasananya aman dan damai karena toleransi antar suku dan antar umat beragama yang terjaga dengan baik. Merauke pun memiliki pantai-pantai dengan pemandangan sunset yang kece banget. Aku jatuh cinta dengan pemandangan sunset di sana.

Nah, itulah tahun 2017-ku. Alhamdulillah, sujud syujur untuk semua hal luar biasa yang terjadi di tahun 2017.

Selamat datang 2018. Semoga aku bisa jadi lebih baik dan banyak mimpi dan harapan yang terwujudkan tahun depan.


Cheers!

Selasa, 31 Januari 2017

Jalan-Jalan Singkat ke Bali

Dalam rangka mengisi liburan semester 3, aku dan teman-temanku di geng belajar foto mengunjungi Bali. Sebenarnya kami berniat liburan di Bali saat liburan semester 2 kemarin. Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Salah satu temanku mengalami kecelakaan motor dan kondisinya cukup parah, tangan kirinya patah. Rencana liburan ke Bali pun diubah ke liburan semester 3. Selain itu, ternyata teman kami yang di Bali mengadakan acara mepandes (kikir gigi) pada tanggal 20 Januari.

Liburan ke Bali diawali dengan menyusun rencana yang ribet dan penuh drama. Dari awal Januari aku sudah menanyakan mau berangkat kapan. Ini dalam rangka meminta ijin ke Ibuk dan Bapak. Kalau mau minta ijin harus jelas kapan berangkatnya dan pulangnya. Tapiii, teman-temanku yang cowok semua ini (iya, aku cewek sendiri di grup) malas untuk menyusun rencana. Dooh! Long story short, diputuskan bahwa mereka berangkat Rabu, 18 Januari, bawa mobil. Aku akan menyusul mereka Sabtu, 21 Januari, karena Jumatnya aku akan menghadiri akad nikah sahabatku.

Rabu siang aku menghubungi bocah-bocah yang akan berangkat by Whatsapp call. Di sini drama dimulai. Ternyata dari diskusi yang telah mereka lakukan disepakati bahwa sore itu jam 18.30 mereka naik bis ke Jember. Dari Jember mereka akan naik mobil ke Bali. Rencananya mereka akan pulang hari Minggu. Lhah? Kalau aku menyusul mereka hari Sabtu, aku hanya sehari dong di Bali. Mahal di tiket dong. No way!

Akhirnya, aku mengubah rencana. Siang itu juga aku berangkat ke Solo, agar bisa berangkat bersama mereka. Selanjutnya, aku akan pulang duluan hari Sabtu. Aku tidak jadi hadir di acara akad sahabatku, tapi hadir di acara resepsinya saja di hari Minggu, 22 Januari.

Untungnya Bapak dan Ibuk memberi ijin. Masalahnya adalah saat itu sudah jam 12.40an. Perjalanan dari Pati ke Solo paling cepat itu sekitar 4 s.d. 5 jam, via Purwodadi. Kalau via Semarang, perjalanan bisa lebih lama lagi, sekitar 6 jam. Aku pun segera packing. Pakaian, alat mandi, tempat minum, dompet, HP, dan kamera langsung saja aku masukkan ke dalam tas. Sesegera mungkin aku berangkat dengan diantar Masku ke Terminal Pati.

Alhamdulillah, aku bisa sampai Solo sesaat sebelum Magrib. Dari terminal Pati, aku naik bis jurusan Purwodadi. Dari Purwodadi aku melanjutkan perjalanan dengan naik bis jurusan Solo. Sesampainya di Solo, aku lalu menuju agen bis Rosalia Indah untuk membeli tiket jurusan Jember. Tiket Solo-Jember harganya Rp150.000,00 (ini include makan malam dan air mineral 600 ml). Teman-temanku baru datang sekitar jam 18.30.

Kami sampai di Jember keesokan harinya. Setibanya di Jember, kami menuju rumah teman untuk mandi dan menunggu mobil sewaan diantar. Iyap, kami menyewa mobil dari Jember karena memang lebih murah jika dibandingkan menyewa di Bali. Kemarin kami menyewa Avanza dengan harga Rp275.000 per hari.

Yuhuiii.. perjalanan ke Bali pun dimulai. Dari Jember kami menuju pelabuhan Ketapang di Banyuwangi. Kami berangkat dari Jember sekitar jam 10.00, sampai di pelabuhan jam 13.30. Dengan menggunakan kapal fery, kami pun menyebrangi Selat Bali. Ongkos menyebrang untuk mobil adalah Rp138.000. Di gerbang masuk, ada petugas yang akan menanyakan identitas penumpang kendaraan. Penyeberangan ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam (termasuk waktu labuh dan sandar kapal).



Karena sudah lapar setibanya di Bali, kami langsung makan siang. Menu pilihan kami adalah ayam betutu Meh Tempeh. Lokasi rumah makannya tidak jauh dari Pelabuhan Gilimanuk (silakan dicari via Google Maps). Awalnya kami berlima sok-sokan hanya pesan ½ ekor saja. Tapi setelah makan, ternyata ayamnya enaaak… pedesnya kecee… Nambah ½ ekor lagi deh akhirnya. Ahaha. *Saking lahapnya makan kami sampai lupa ambil gambar penampakan ayam betutunya.

Selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan menuju Denpasar. Sesampainya di Denpasar kami langsung sholat, dilanjutkan makan malam, dan langsung menuju ke penginapan. Kami tidak melanjutkan jalan-jalan karena sudah lelah. Selama perjalanan tadi kami tidak ada yang tidur sama sekali.

Keesokan harinya, acara jalan-jalan dimulai. Awalnya kami berencana untuk mencari sunrise di Sanur. Tapi pagi itu hujan turun. Bocah-bocah pun jadi malas-malasan untuk bangun pagi. Setelah sholat subuh, mereka tidur lagi. Kami baru berangkat  dari penginapan sekitar jam 8 pagi.

Setelah sarapan, kami menuju ke Pantai Padang-Padang. Di loket masuk tertulis harga tiket adalah Rp10.000 per orang. Ternyata itu untuk wisatawan asing, sementara untuk wisatawan lokal kami hanya dikenai biaya Rp5.000 orang. Lokasi pantai ada di bawah, untuk menuju ke sana ada beberapa anak tangga yang harus dilewati. Saat masuk sih enak saja karena arahnya menurun. Tapi, saat keluar, deuuh.. penuh perjuangan. Sudah lama aku tidak berolahraga. Sesampainya di mobil kakiku rasanya goyang. Wkwkwk.


 Saat lagi mendung syahdu, jadi kelihatan redup mendayu. :|

Kami tidak lama di Pantai Padang-Padang karena hujan kembali turun. Selanjutnya kami menuju ke Pantai Dream Land. Lokasinya ada di dalam kawasan perumahan. Kata temanku, untuk menuju ke pantai ini kita harus naik bis khusus yang disediakan. Tapi, saat kami sampai di sana, tidak ada bisnya. Mungkin karena saat itu hujan. Karena saat itu hari Jumat dan sudah siang, bocah-bocah harus sholat Jumat, kami pun menuju ke masjid. Selama bocah-bocah sholat, aku nongkrong di mobil aja, baca novel.

Perjalanan dilanjutkan ke Ulun Danu, Batur. Lokasinya berada di pegunungan dan lumayan jauh dari Denpasar. Perjalanan sekitar 1 s.d. 2 jam. Sebenarnya saat kami sampai di lokasi agak-agak gerimis gitu. Tapi kami tetap masuk, kan sudah jauh-jauh sampai sana. Di loket masuk tertulis tiket masuknya Rp25.000 per orang. Tapi saat aku membayar Rp100.000, petugasnya memberi kembalian Rp20.000. Alhamdulillah rejeki anak solehah. :D

Oiya, untuk yang penasaran di Ulun Danu ada apa sampai kami bela-belain jauh-jauh ke sana, coba ambil uang Rp50.000, lalu liat bagian belakangnya. Nah, di Ulun Danu itulah lokasi pura yang ada di bagian belakang uang itu. Ini lho gambarnya.




 Alhamdulillah, setelah masuk gerimisnya berhenti. Jadi bisa foto-foto deh. :D

Hari sudah sore, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Gitgit. Bocah-bocah itu mau mandi sore. Lagi-lagi lokasi air terjun ini ada di bawah. Ucapkan halo lagi pada tangga. Deuh! Tiket masuknya Rp10.000 per orang. Oiya, aku nggak ikut mandi-mandi, males ribet ganti baju. Wkwkwk.

Setelah itu, kami langsung balik ke penginapan? O, tidak dong. Kami melanjutkan perjalanan ke rumah teman kami. Si teman ini mengadakan acara mapandes (kikir gigi). Upacara ini dilaksanakan sebagai pertanda bahwa seseorang telah beranjak dewasa. Sayangnya kami tidak bisa menyaksikan upacara tersebut, karena kami sampai sana terlalu malam. Ehehehe. Kami hanya mengobrol dengan si tuan rumah dan numpang makan malam. Ahahaha. Sekitar jam 10 malam, kami kembali ke penginapan.

Keesokan harinya, hari Sabtu, sekali lagi kami berencana untuk mencari sunset. Tapi lagi-lagi hanya wacana karena bocah-bocah malas bangun pagi. Alasan klasik. Beuuh! Hari itu aku hanya ikut jalan-jalan setengah hari saja. Aku akan pulang dengan pesawat pukul 3 sore.

Setelah keluar dari penginapan, kami menuju ke rumah teman kami karena dia akan ikut kami jalan-jalan. Rencananya setelah menjemput si teman, kami mau makan ikan bakar. Tapi ternyata kami “dipaksa” sarapan di rumah si teman ini. Kan nggak enak ya kami menolak rejeki. Wkwkwk. Setelah sarapan kami menuju ke pasar Kumbasari. Ibuk nitip dibeliin seprei Bali .*Beliau jatuh hati dengan seprei Bali yang bahannya adem, nyaman untuk tidur :D.

Selesai aku berbelanja (iya, yang belanja aku saja, 5 bocah yang lain keliling-keliling sendiri tapi ujung-ujungnya nggak belanja), kami makan siang. Kami makan di Denpasar biar nanti nggak perlu buru-buru sewaktu mengantar aku ke bandara. Kondisi jalan di sekitar bandara sering macet apalagi saat itu weekend. Daaan… aku lupa nama tempat makannya apa. Ahaha. Tapi porsinya gedhe gilaaak. Makananku habis dengan bantuan dari bocah-bocah.. Ahahaha. Setelah itu, kami cus ke bandara lewat tol Bali Mandara. Fyi, pemandangannya kece lho sepanjang jalan tol ini.

Nah, itulah laporan jalan-jalanku ke Bali. Meskipun hanya sebentar, tapi seneng juga rasanya. Kalau banyak rencana yang tidak terlaksana, aku sudah maklum karena memang kebiasaan kalu jalan dengan bocah-bocah itu akan terjadi perubahan rencana. Yang penting dinikmati saja jalan-jalan bareng mereka. Ahahaha... 


PS:

Bagi umat muslim, di depan Ulun Danu, ada masjid yang lumayan besar. Dari pelataran masjid, kita bisa melihat pemandangan Danau Batur dari atas. Karena lokasi masjid berada di atas, lagi-lagi ada tangganya. :D

Minggu, 29 Januari 2017

Update: Semester 3

Hai…
Sudah berapa lama sejak aku terakhir kali mengoceh di sini? Yah, sekitar 7 bulan yang lalu, saat aku liburan semester 2. Fyi, sekarang aku sedang liburan semester 3. Lagi-lagi aku tidak menepati janji untuk membuat ocehan di blog ini selama semester 3 kemarin.

Meskipun jumlah sks di semester 2 paling banyak, tetapi kuliahnya lebih menyenangkan. Masih bisalah sepulang kuliah main-main ke mana.  Sementara semester 3 dengan  jumlah sks hanya 23 sks, tapi kuliahnya terasa lebih berat. Perkiraanku di awal semester 3 bahwa aku akan lebih santai selama semester itu ternyata salah besar. Yang ada aku menjadi lebih sibuk. It’s like in the hell. I swear!

Yah, semua itu karena kebetulan aku mendapatkan paket combo 2 dosen dengan banyak tugas. Satu dosen selalu menugaskan untuk membuat bookchapter  di setiap pertemuan (per minggu). Awalnya setiap orang diwajibkan membuat 20 halaman. Dibentuk juga beberapa kelompok untuk mempresentasikan hasil bookchapter di setiap pertemuan.

Sounds easy, huh? Just in your dream! Karena dalam bookchapter itu kami diharuskan untuk mengutip minimal 5 jurnal internasional. Selain itu, bookchapter kami harus discan dengan aplikasi anti plagiarisme. Bapak dosen yang terhormat minta batas maksimalnya adalah 20%. Artinya maksimal 20% tulisan kami diberi toleransi memiliki kesamaan dengan sumber-sumber di internet, sisanya harus original buatan kami sendiri.

Pertemuan pertama pengumpulan tugas, kami sekelas bermata merah. Yah, selazimnya mahasiswa, kebanyakan dari kami mengerjakan tugas mepet dengan deadline. Ohiya, tugas kami harus dikirim ke Bapak dosen maksimal 3 jam sebelum jam pertemuan. Duh!

Untungnya di pertemuan selanjutnya, bookchapter dibuat per kelompok. Setiap kelompok yang beranggotakan 7 s.d 6 orang harus menyusun minimal 50 halaman. Setiap orang harus mengutip 3 jurnal internasional. Batas plagiarisme tetap 20% dan diemail 3 jam sebelum pertemuan kuliah. Tapiii, tugasnya si Bapak Dosen Terhormat tidak hanya itu saja. Masih ada tugas untuk jurnal in English, poster rancangan skripsi, dan visibility study. Allohu Akbar!

Sementara itu, Bapak Dosenku yang lain selalu memberikan pretest  di awal pertemuan. Materinya in English dong karena beliau menggunakan referensi berbahasa Inggris. Masalahnya adalah si Bapak ini sering mengubah jadwal pertemuan. Beliau memang sibuk karena mengampu di 2 negara yang berbeda (di Indonesia dan Malaysia). Belum lagi kegiatan penulisan ilmiah beliau yang jumlahnya cukup banyak. Seringkali beliau membatalkan kuliah H-beberapa puluh menit sebelum pertemuan. Lhah kita kan sudah terlanjur belajar. Huhuhu..

Sementara untuk tugas akhir, Bapak Dosen meminta agar kami per kelompok (beranggotakan 3 s.d. 4 orang) untuk membuat paper ilmiah. Jangan lupa juga untuk mengeceknya dengan aplikasi anti plagiarisme. Lebih dari batas yang ditentukan beliau, maka paper akan ditolak. Ohiya, paper ini diuji secara lisan oleh Bapak Dosen. Kami menggunakan aplikasi Skype, karena Bapak Dosen tidak bisa hadir di kelas. Sounds cool? Ohyeah, but it’s soo horrible! Kami harus mempertahankan argumen yang kami paparkan di paper sementara Bapak Dosen dengan teliti melemparkan berbagai macam pertanyaan dan komentar.

Untuk dosen-dosen mata kuliah yang lain, lumayan OK sebenarnya. Paling hanya tugas presentasi per kelompok setiap pertemuan. Tapiii, di akhir semester, tugas dan take home quiz merajalela. Hampir selama satu minggu di minggu terakhir semester 3, kami semua harus begadang. Keesokan harinya kami ke kampus hanya untuk menyerahkan tugas saja. Yah, sebenarnya ini juga karena kami sebagian besar adalah deadliner sih. Wkwk. But, hey, we always get the idea at the critical moment right? Many ideas is coming when we are under pressure.

Study hard, playing hard, right? Di akhir minggu aku sering sekali bermain dan pergi ke mana untuk menghilangkan stres. Yah, terkadang aku hanya makan di tempat yang jauh dari areal kampus sih. Tapi, beberapa kali aku dan beberapa teman sempat pergi ke luar Solo.

Semester depan, semester terakhir, aku dan teman-teman harus menyusun skripsi. Seharusnya di liburan ini, kami sudah memiliki gambaran tentang apa yang akan kami tulis. Tapi, aku masih belum mendapatkan ide yang pas untuk skripsi. Lebih tepatnya aku masih malas untuk mencari ide, karena masih ingin rehat dari kekejaman di semester 3. Huhuuhu..

Yah, itulah sekilas tentang semester 3-ku. Insya Alloh, di ocehan selanjutnya aku akan menceritakan tentang liburanku ke Bali. Hohohoho. Sampai jumpa