Minggu, 08 Desember 2013

Dokomo ikimaseng ...



Sensei     : Ja, ashita doko he ikimasu?
Aku        : watashi ha dokomo ikimaseng

Sensei     : uchi he nani wo shimasu?
Aku        : hong wo yomimasu

Sensei     : Sorekara?
Aku        : Nemasu. Ahahahaha

Itu penggalan ujian speaking kemarin.  Ahahahaha. Kok ujian? Bahasa apa itu? Artinya?
Ok, read carefully, I’ll explain it for you, dear readers. Wkwkwk

Waktu berjalan, banyak hal yang terjadi. Tsaaah… Di postingan sebelumnya, di bulan Agustus itu, aku mengoceh tentang DTSD. Postingan sebelumnya lagi, aku mengoceh tentang Prajab. Intinya beberapa bulan itu otakku berfungsi maksimal untuk belajar. Awalnya, aku merasa lola sewaktu menerima materi. Setelah dijelaskan pengajar di kelas, harus baca perlahan-lahan lagi materinya saat di kamar. Tapi lama kelamaan, alhamdulillah otakku bisa menyesuaikan, daya tangkapnya lumayanlah. Mendengar penjalasan pengajar di kelas pun bisa mengerti, kalaupun perlu baca materi ya, hanya saat jelang ujianlah. Hihihi..

 Begitu diklat selesai aku pun harus kembali ke kantor, bekerja, mengaplikasikan ilmu dari diklat. Tapi, pada kenyataannya, hanya sebagian kecil materi saja yang bisa diaplikasikan. Kerja otak pun tidak terlalu maksimal, karena setiap hari hanya mengerjakan rutinitas yang sama. Nah, aku merasa kalau terus menerus seperti ini, aku bisa lola lagi. Aku harus mencari kegiatan yang bisa membuat otakku tetap bekerja maksimal. Mau belajar mandiri tentang hal-hal serius misalnya ekonomi, akuntansi, hukum dll pun rasa-rasanya kok agak mustahil ya. Akhirnya aku memilih alternatif untuk mengambil les bahasa asing. Pertanyaan baru pun muncul. Mau bahasa apa? Jujur saja, aku sudah bosan les bahasa Inggris. Bukan berarti aku sudah jago dan cas cis cus bahasa Inggris. Pilihannya antara Jepang atau Jerman. Sebelumnya aku pernah sedikit dua bahasa itu. Dengan mempertimbangkan media belajar yangvakan lebih efektif untuk memudahkan penguasaannya, aku pun memilih Jepang. Dorama (drama Jepang) lebih menarik ditonton, Jenderal! :D

Setelah tanya sana sini, aku memutuskan untuk mengambil les Jepang di LBI UI Salemba. Dekat dan transportasinya mudah. Les Bahasa Jepang di LBI UI sendiri dibagi menjadi beberapa level. Untuk penentuan tingkat bisa dilakukan dengan placement test terlebih dahulu. Berhubung aku belajar bahasa Jepang hanya sebentar sewaktu kelas satu SMA (itu sudah  7 tahun yang lalu. Oh, NO!), aku ambil aman saja, mulai lesnya dari level 1, tanpa placement test.  Dengan placement test juga akan ditempatkan di level 1 kok pasti. :pDan, mulai pertengahan bulan September kemarin pun aku memiliki jadwal rutin di setiap Sabtu pagi sampai siang. Kalau weekend ada yang mau mengajak hang out, jalan, main dan sejenisnya ya sebisa mungkin jadwalnya jadi Sabtu sore atau hari Minggu. Sekali bolos, kan bisa ketinggalan materi lumayan banyak juga 

Satu level  les di LBI UI itu biasa sekitar 3 bulan. Di setiap level akan ada final test untuk menentukan kelulusan dan kenaikan level. Baru kemarin, aku melewati final test. Ujiannya dibagi menjadi 3 bagian, jam pertama, writing test, isinya semacam stucture gitulah. Jam kedua, listening test dan speaking test. Bisa nggak? Uhmmm… ya begitulah. Writing agak yakin sih, meskipun baru benar-benar belajar Jumat malam dan Sabtu pagi. Huahahaha. Kalu listening, beberapa ada yang nembak sih. Ya mau bagaimana lagi, itu native ngomong jamnya cepat banget, nani nani ji nani nani fung, nani nani ji kara nani nani ji made. “-__-. Next, speaking, belajar dari pengalaman sebelumnya saat mid test, aku berusaha santai saja, biar nggak gugup dan fokus.  Sensei penguji bertanya tentang kegiatan keseharian, makan apa, baca koran nggak tiap pagi, jam kantor, ke kantor naik apa, hari ini tanggal berapa (aeh, dan sekarang kan tanggal muda yang ada istilah khususnya, untung semalam sudah dihafalkan. Ahahah), dll.

Ohiya, yang petikan percakapan di awal itu artinya adalah sebagai berikut.

Sensei : Ya,besok mau pergi ke mana?
Aku        : nggak ke mana-mana (biar gampang ini. :D)
Sensei   : di rumah mau ngapain dong?
Aku        : baca buku
Sensei   :  selanjutnya?
Aku        : tidur. Ahahahaha (ngaco!)

Sebenarnya,hari ini, teman sekosan (iya, sejak September aku jadi anak kos lagi) berencana mengajak shopping ke mall mana gitu. Ada diskon brand langganan dia, dan ini kan tanggal muda. Perfect! Tapi sepertinya termakan omongan pas ujian kemarin, hari ini justru kami tidak pergi kemana-mana. Cari makan nggak termasuk hitungan pergi  kan ya? Kami seharian hanya di kosan, nonton K-drama. Kami sedang kena “racun” yang judulnya “The Heirs”. Teman kosanku yang pertama kena “racun” ini. Karena aku sedang ingin refreshing, belum mood baca buku dan tidak ada  stok film baru, aku pun meng-copy nya. Dan, aku pun keracunan juga. Huahahaa..The story is complicated. When you’ve finished one episode, you’ll gonna curious about how story on the next episode is. Nggak percaya? Coba deh nonton. Muahahaha

Ja, kyo ha watashi ha eigo wo mimasu. Sorekara “blog” wo kakimasu. Sorekara nemasu. Owarimasu.

See you on the next posting, guys!

Tidak ada komentar: