Kamis, 24 Februari 2022

Perjalanan Lanjut Kuliah Lagi: Bagian 1

Haihai, para pembaca!

Sepertinya sudah lama sekali, aku nggak mengoceh di sini. Nah, mumpung aku lagi bahan yang bisa dibagi, aku akan mengoceh kembali. Hahaha.

Kali ini aku akan mengoceh tentang perjalananku untuk kuliah lagi. Ocehanku akan aku bagi menjadi beberapa bagian. Kalu dijadiin satu, akan jadi sangat panjang sekali. Biar aku nggak lelah mengetik dan kalian nggak bosan bacanya, aku pecah saja ya ocehanku. *Biar kalian juga sering-sering berkunjung juga sih di sini. Ehehe

Alasan utama aku lanjut kuliah tuh karena sudah kangen dengan situasi saat belajar di kampus. Kalu diingat, masa kuliah S1 di Solo tuh sangat menyenangkan dan berkesan. Pingin bangetlah mengulang masa itu. Selain itu, banyak drama yang terjadi di kantor selama tahun 2019 dan 2020 yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Aku rasa aku butuh rehat dari hiruk pikuk suasana kantor. Jadi, aku putuskan kalau aku harus segera lanjut kuliah.

Sejak diterima di D3 STAN, aku punya tekad untuk berusaha melanjutkan sekolah secara gratis atau dengan mencari beasiswa. Alasan utama tentunya biaya. Dengan beasiswa, nggak perlu repot-repotlah mikir biaya kuliah. Apalagi saat aku dapat beasiswa STAR untuk S1, ada tambahan fasilitas biaya hidup dan biaya buku. Alasan lainnya adalah aku ingin fokus. Untuk PNS, jika belajar dengan beasiswa ybs akan berstatus tugas belajar dan tidak aktif di kantor. Berbeda kalu kuliah dengan biaya sendiri (istilahnya izin belajar) yang harus tetap bekerja selama kita kuliah. Aku nggak yakin kalu aku mengambil izin belajar nantinya akan bisa mengatur waktu dengan baik dan bisa fokus belajar saat kuliah karena waktu kuliah biasanya setelah jam kerja. 

Berbeda dengan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di jenjang S1/DIV yang sangat terbatas, pilihan beasiswa untuk S2 tuh lebih banyak dengan berbagai macam lembaga donor atau pemberi beasiswa. Ada negara sebagai donor misalnya pemerintah Australia untuk beasiswa AAS,  pemerintah Inggris untuk beasiswa Chevening, pemerintah Ameriksa Serikat untuk beasiswa Fullbright dan masih banyak lagi. Selain itu juga ada beasiswa dari kementerian atau lembaga misalnya dari BAPPENAS, Kominfo, LPDP dll. Dari sekian banyak beasiswa, aku mengincar beasiswa FETA yang khusus diberikan oleh Kementerian Keuangan bagi para pegawainya.

Ada beberapa alasan aku tertarik dengan beasiswa FETA. Yang pertama, berbeda dengan basiswa lain yang di tahapan awal meminta syarat sertifikat kemampuan bahasa Inggris (TOEFL atau IELTS), FETA menawarkan opsi seleksi tertulis. Kedua, FETA memiliki program persiapan keberangkatan yang memfasilitasi para penerima beasiswa untuk belajar bahasa Inggris secara intensif. Selama program ini, para penerima beasiswa akan diasramakan dan bebas dari tugas kantor (yeay!). Ketiga, FETA memungkinkan para penerima beasiswa untuk memilih kampus di negara mana pun sesuai keinginan masing-masing asalkan masuk ke dalam daftar 100 universitas terbaik dunia. Jelas-jelas menggiurkan kan itu semua?

Karena aku lulus kuliah S1 bulan September 2017, aku baru bisa mendaftar beasiswa S2 setelah bulan September 2019. Jadi, di internal Kementerian Keuangan ada aturan bagi para pegawai yang telah menyelesaikan tugas belajar, ybs baru bisa daftar beasiswa untuk jenjang pendidikan di atasnya 2 tahun sejak tanggal lulus (info lebih lengkap bisa dicek di PMK tugas belajar). Sebenarnya di bulan September 2019 ada pembukaan pendaftaran beasiswa LPDP yang berdasarkan pengamatanku peluangnya cukup bagus karena jumlah awardee yang cukup banyak di setiap batch. Tapi saat itu aku belum memiliki sertifikat kemampuan Bahasa Inggris. Aku juga barusan banget dapat job desc baru. Banyak penyesuaian yang harus aku lakukan, belum lagi peak season sudah di depan mata. Nggak sempatlah aku mempersiapkan diri untuk tes IELTS atau TOEFL. Daripada memaksakan diri terus hasilnya nggak bagus dan aku kuciwa, yasudahlah aku nggak ikutan LPDP.

Ternyata di akhir November 2019 ada penawaran program beasiswa Pascasarjana Kementerian Keuangan (FETA Scholarship) tahun 2020. Saat itu, proyek yang jadi tanggung jawabku pun baru saja selesai. Jadi, aku putuskan untuk mendaftar beasiswa tersebut. 

Cerita tentang perjalananku mengikuti seleksi beasiswa FETA aku lanjutkan di ocehan selanjutnya ya, manteman. Sampai jumpa.


Minggu, 26 Juli 2020

Kuy, Segera Donor Darah!



Utas ini aku temukan di linimasa Twitter bulan lalu. Sedih deh pas baca. :(
Aku punya saudara sepupu yang anaknya juga mengidap penyakit Thalassemia, jadi aku tahu seberapa besar pentingnya tranfusi darah bagi keberlanjutan hidup pengidap penyakit itu.

Sesaat setelah membaca utas di atas itu aku sebenarnya ingin langsung donor. Dari segi waktu, sebenarnya aku sudah memenuhi syarat untuk donor karena sudah lebih dari 3 bulan sejak donor terakhirku pada bulan Desember tahun lalu.  Namun, ada 2 alasan yang tidak memungkinkan aku untuk donor. Yang pertama karena pandemi COVID-19. Yang kedua karena nggak ada yang nemenin.

Ya, semua sudah tahulah ya, karena pandemi COVID-19 yang melanda, kita semua dianjurkan untuk di rumah aja. Sejak mulai pemberlakuan WFH di bulan Maret lalu sampai akhir bulan Mei, aku mengungsi ke Bekasi. Sepanjang periode itu, aku benar-benar mematuhi anjuran untuk di rumah aja. Aku pergi ke luar rumah hanya untuk keperluan yang mendesak misalnya belanja barang yang nggak mungkin dibeli secara daring dan ambil uang di ATM. 

Ke PMI untuk donor darah, saat itu menurutku bukan masuk ke kategori keperluan mendesak. Pun selama periode di rumah aja itu, entah kenapa tekanan darahku selalu berada di bawah kategori baik. Meskipun sudah makan daging kambing, tetap saja tekanan darahku tidak kunjung kembali ke kondisi baik seperti biasanya.

Nah, untuk alasan kedua, tentu sebagian dari kalian ada yang berkomentar, kok kamu manja banget sih, Nya? Eits, ini ada ceritanya ya. Saat donor terakhir itu ada drama yang terjadi. Setelah donor, aku tuh sempat pingsan di mushola PMI Kramat. Padahal sebelum donor dan sesaat setelah donor aku baik-baik saja lho, nggak merasa pusing atau lemas sama sekalipun. Hasil konsultasi dengan dokter Poliklinik kantor, itu mungkin karena aku langsung sholat sesaat setelah donor. *Iya, aku pingsannya saat sholat Magrib. Karena peristiwa ini, Ibuk selalu mewanti-wanti aku kalau mau donor, harus ada temannya.

Setelah sebulan aku maju mundur mau donor, hari ini aku putuskan untuk donor di PMI Kramat. Sendirian sih karena nggak tahu mau ngajak siapa di kondisi saat ini. Bismillah deh. Aku berpikir, niatku kan baik insya Alloh akan dimudahkan. 

Alhamdulillah, donor hari ini berhasil, gengs. Tekanan darahku oke dan haemoglobin (Hb) pun melewati syarat minimal (lebih tinggi dibanding biasanya malahan. Ehei). Sedikit drama adalah durasi waktu donorku yang lebih lama aja sih dibanding orang lain. Itu terjadi karena alasan klasik sih, pembuluh darahku kecil. *Nggak percaya ya, kalian, aku yang badannya sebesar ini pembuluh darahnya kecil. Wkwk. Aku berharap semoga darahku bisa bermanfaat bagi orang yang membutuhkan.

Nah, selanjutnya aku mau mengajak kalian yang kondisinya memungkinkan untuk ikut berdonor. Kondisi yang memungkinkan tuh gimana sih? Mengutip dari laman PMI Indonesia, syarat kalian bisa donor antara lain, harus sehat jasmani dan rohani; berusia 17 s.d. 65 tahun; memiliki berat badan minimal 45 kg; tekanan darah sistole 100-170 dan diastole 70-100; kadar haemoglobin 12,5 g% s.d. 17,0g%; dan jarak dengan waktu donor sebelumnya adalah 12 minggu atau 3 bulan. Oiya, kalu yang perempuan ada syarat tambahan tidak sedang menstruasi atau hamil atau menyusui. Untuk kondisi memungkinkan yang lain misalnya pengidap penyakit apa yang nggak boleh donor bisa dicek di laman ini ya. 

Ternyata ketika kita mendonorkan darah, kita tuh nggak hanya membantu orang lain lho. Kita juga mendapatkan beberapa manfaat, yaitu menjaga kesehatan jantung dan membuat darah mengalir lebih lancar, meningkatkan produksi sel darah merah, mengurangi risiko kanker, dan yang pasti bisa tahu kondisi kesehatan kita. Fyi, darah yang kita donorkan tuh nggak langsung disalurkan ya. Akan dicek dulu di lab. Jika ada yang bermasalah, darah kita nggak akan disalurkan ke yang membutuhkan. Kita juga akan diinfo oleh PMI tentang masalah tersebut.

Berdasarkan pengalamanku nih ya, ada beberapa tips and trick yang bisa kalian praktikkan terkait donor darah, yaitu:
a. Pastikan kalian tidur yang cukup saat malam sebelum donor dan kalian dalam kondisi sehat wal afiat jasmani dan rohani. Buat yang perempuan, sebaiknya kalian sudah selesai menstruasi seminggu sebelum waktu donor.
b. Makan makanan yang sehat beberapa hari sebelum donor biar kondisi badan dan darah kita tuh oke. Yang langganan hb-nya rendah seperti aku bisa perbanyak makan sayuran hijau, daging merah, atau kacang-kacangan.
c. Sebelum donor pastikan kalian sudah makan dan usahakan banyak minum air putih.
d. Beberapa hari sebelum donor jangan minum obat ataupun vitamin.
e. Kalau bisa jangan datang ke tempat donor darah sendirian, apalagi buat kalian yang baru pertama kali donor. *Kelakuanku yang naik motor sendiri ke tempat donor itu jangan ditiru ya, nggak baik. 
f. Setelah pemeriksaan dokter ok dan kalian bisa donor, cuci dulu ya lengan kalian.
g. Saat donor jangan tegang. Kalu kalian tegang, pembuluh darah akan "sembunyi" dan susah ditemukan. 
Khusus buat kalian yang trauma atau takut dengan suntikan, beberapa hal yang bisa kalian lakukan adalah:
- Nggak usah liat saat petugasnya menusukkan jarum dan saat proses pengambilan darah. 
- Kalian juga bisa bilang ke petugasnya. Biasanya petugas pengambil darah akan membantu kita dengan mengajak ngobrol sehingga fokus kita teralihkan. 
- Tanamkan sugesti ke pikiran kalian, "iya itu jarum emang lumayan besar ukurannya, tapi saat ditusuk itu rasanya seperti digigit semut kok." *Pssst.. ini tuh yang aku lakukan saat donor darahku yang pertama.
- Ikuti instruksi yang dikasih petugas pengambil darah, insya Alloh semua akan baik-baik aja.
- Biar proses pengambilan darah cepat, gerakin jari tangan dengan membuka dan menggenggam karena gerakan ini akan memperlancar aliran darah. Kadang kalu sedang beruntung, kita dapat pinjaman bola lunak dari petugas untuk membantu gerakan jari tangan ini.
h. Sebaiknya kalian ingat tuh, kalian pasnya diambil darah di lengan yang mana. Ada orang macam aku yang lebih baik jika diambil darahnya di lengan kanan karena posisi pembuluh darah di lengan kiriku ada di dalam banget. 
i. Setelah donor kalian sebaiknya:
- Istirahat paling nggak 15 menit ya. Fyi, nggak apa-apa lho kalu kalian tiduran dulu sebentar (5-7 menit) di tempat tidur/velbed sesaat setelah kalian donor. Petugas paham kok kalu kalian butuh istirahat. Setelah itu duduk dulu deh sekitar 10-15 menit.
- Kalu bisa, setelah donor kalian makan sesuatu atau minum susu ya, tujuannya agar kalian bisa segera memulihkan tenaga. 
- Jangan langsung sholat ya manteman setelah donor. Gerakan sholat yang cenderung tiba-tiba bisa membuat badan "kaget" padahal kondisinya kita masih pemulihan.
- Jika setelah donor kalian pusing, bilang ke petugas yang ada, biar kalian bisa segera dapat pertolongan.
- Kalau bisa, sesampainya di rumah kalian langsung tidur deh. 
- Untuk menghindari bengkak di bekas suntikan, kalian jangan angkat-angkat beban yang berat dulu selama 12 jam pasca donor. *Beban hidup yang berat lupain dulu lah.wkwk.
j. Kalu setelah donor, ternyata kalian mengalami hematoma (pendarahan kecil pada permukaan di bawah kulit, karena darah merembes sehingga menyebabkan warna menjadi biru keunguan biasanya setelah 5 jam kemudian), penanganannya bisa cek gambar di bawah ini.



Kalian nggak perlu khawatir dengan penularan COVID-19 di PMI. Berdasarkan pengalamanku tadi, di PMI Kramat diberlakukan protokol kesehatan kok. Di pintu masuk kita akan disambut oleh petugas yang akan mengecek suhu tubuh kita (Udah nggak usah khawatir dengan jidat yang ditembak) dan memberikan formulir untuk kita isi. Formulir ini terdiri dari formulir yang biasanya kita isi untuk donor dan formulir untuk mengecek kondisi kita terkait COVID-19. Di ruang tunggu pun posisi duduknya diatur sehingga kontak fisik dengan pendonor yang lain dibatasi. Setelah pemeriksaan dokter oke, kita akan dikasih masker. Nah, saat di ruangan transfusi kita harus mengganti masker yang kita pakai dengan masker yang baru itu.

Jadi tunggu apalagi nih, manteman? Kuylah segerah donor darah!